Monday, January 2, 2017

Apakah arti dari kebebasan?

Free Download Tulisan Ini

Oleh: Izar Tirta
 
Apakah arti dari kebebasan


Abstrak:
Tulisan ini bertemakan tentang arti dari kebebasan, terutama ditinjau dari sudut pandang kekristenan. Di dalamnya saya mencoba menjawab beberapa pertanyaan sehubungan dengan arti dari kebebasan tersebut, yaitu:
- Apakah hasrat manusia yang paling dalam?
- Apakah definisi dari kebebasan?
- Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara umum?
- Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara filsafat?
- Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara Alkitabiah?
- Apakah Allah adalah Pribadi yang sungguh-sungguh mempunyai kebebasan?
- Bagaimana kita harus memahami tentang kebebasan manusia?
- Apakah hukum dan peraturan merupakan penghalang bagi kebebasan manusia?
- Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia? [Baca juga: Apa yang dimaksud dengan kemerdekaan menurut pemahaman Kristen? Klik disini.]

Dalam tulisan ini, saya juga akan mencoba menjawab pertanyaan kuno yang cukup terkenal yang umumnya diajukan oleh orang-orang yang meragukan Allah, yaitu: Dapatkah Allah menciptakan sebuah batu yang begitu besarnya, sampai Allah sendiri tidak mampu mengangkat batu itu?



Gelang Salib Titanium. Klik disini.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi masukan yang berguna bagi kita semua yang mungkin pernah pula mempertanyakan hal-hal yang serupa dengan yang dibahas di sini. [Baca juga: Apa yang dimaksud dengan iman? Klik disini.]


Pendahuluan:
 
Pernahkah kita bertanya-tanya, apakah yang menjadi hasrat manusia yang paling dalam? Setiap manusia tentu mempunyai bermacam-macam hasrat di dalam dirinya, namun salah satu hasrat manusia yang terdalam adalah kebebasan. Saya pernah duduk makan dengan seorang pengusaha garment di Jakarta dan dalam bincang-bincang sambil makan itu saya bertanya padanya tentang apakah hal yang paling penting dan bernilai dalam hidupnya. Tanpa berpikir lama, ia pun menjawab: “Kebebasan.” [Baca juga: Keunikan ajaran Alkitab tiada bandingnya. Klik disini..]

Siapa sih yang tidak senang hidup bebas? Atau sebaliknya, siapa sih yang senang jika hidupnya dibatasi? Pergilah ke penjara-penjara dan anda akan menemukan pribadi-pribadi yang ruang geraknya amat dibatasi. Mereka tidak boleh pergi ke sana kemari sesuka hati. Mereka tidak boleh seenaknya mendengarkan musik atau nonton film. Mereka tidak boleh sesukanya memesan makanan kesukaan mereka. Mereka bahkan tidak boleh bertemu anggota keluarga tercinta di sembarang waktu. Atau pergilah ke rumah-rumah sakit, dan tengoklah mereka yang terbaring di tempat tidur atau yang menderita kelumpuhan. Mereka tidak bisa pergi ke mana-mana, tidak bisa makan yang enak-enak, tidak bisa begini dan tidak bisa begitu. Atau coba simak pendapat Robert T.Kiyosaki tentang kebebasan finansial, yaitu ketika anda tidak perlu lagi kerja susah payah mencari uang karena uang anda sudah bisa berkembang sendiri. Ah, seandainya kita selalu memiliki kebebasan dalam hal apapun, betapa indahnya. [Baca juga: Berdamai dengan Allah sebagai dasar perdamaian dunia. Klik disini.]

Kebebasan adalah kerinduan semua orang. Kita tidak suka dibatasi oleh apapun. Bahkan pasangan umat manusia yang pertama yaitu Adam dan Hawa merindukan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka mau sekalipun mereka sudah hidup di suatu tempat yang begitu lengkap dan indah. Tuhan hanya memberi satu saja batasan bagi mereka yaitu agar tidak menyentuh buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, namun dalam hal itupun mereka terbukti tidak mampu menahan keinginan mereka untuk membebaskan diri dari batasan yang diberikan oleh Tuhan. Adam dan Hawa melanggar batas yang diberikan Allah demi sebuah kebebasan dan berakhir sebagai pasangan yang jatuh ke dalam dosa dan dibuang dari Taman Eden. Betapa besar harga yang harus dibayar oleh mereka (dan juga kita) demi memenuhi hasrat akan kebebasan bukan?

Agaknya, tidak dapat dipungkiri bahwa kita manusia tergila-gila pada kebebasan.

Tapi, sebenarnya apa sih definisi dari kebebasan itu?


Apakah definisi dari kebebasan?
 
Bagaimanakah kita mendefinisikan kebebasan itu? Atau, apakah yang dimaksud dengan kebebasan? Saya akan memperlihatkan beberapa pandangan atau pengertian tentang kebebasan, yaitu arti kebebasan ditinjau menurut pandangan secara umum, arti dari kebebasan ditinjau dari pandangan secara filsafat dan arti kebebasan menurut pandangan Alkitab.


Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara umum?
 
Pada umumnya orang berpendapat bahwa yang namanya kebebasan itu artinya adalah suatu kondisi dimana tidak ada hambatan sama sekali. Seseorang dapat melakukan apa saja yang menjadi kehendak hatinya, tidak dibatasi oleh hukum, tidak dibatasi oleh orang lain, tidak dibatasi oleh kelemahan fisik, tidak dibatasi oleh keadaan keuangan, tidak oleh apapun.
 
Bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kebebasan sebagai :
  1. Lepas sama sekali, tidak terhalang, tidak terganggu sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dengan leluasa
  2. Lepas dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut
  3. Tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan. 
  4. Merdeka.[1]
Saya yakin ini adalah pandangan umum tentang kebebasan yang dianut oleh sebagian besar orang di dunia ini.

Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara filsafat?
 
Di dalam Kamus Filsafat, kebebasan dijelaskan dengan beberapa pengertian pokok [2], yaitu:
  1. Keadaan tidak dipaksa atau ditentukan oleh sesuatu dari luar, sejauh kebebasan disatukan dengan kemampuan internal definitif dari penentuan diri.
  2. Penentuan diri sendiri, pengendalian diri, pengaturan diri, pengarahan diri.
  3. Kemampuan dari seorang pelaku untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan kemauan dan pilihannya. Mampu bertindak sesuai dengan apa yang disukai, atau menjadi penyebab dari tindakan-tindakan sendiri.
  4. Didorong dan diarahkan oleh motif, ideal, keinginan dan dorongan yang dapat diterima sebagaimana dilawankan dengan paksaan, atau rintangan (kendala) eksternal atau internal.
  5. Kemampuan untuk memilih dan kesempatan untuk memenuhi atau memperoleh pilihan itu.
  6. Rupanya definisi dari kebebasan yang dijabarkan oleh Kamus Filsafat lebih luas daripada yang dijabarkan oleh Kamus Umum Bahasa Indonesia. Di dalam pengertian Filsafat, kebebasan lebih difokuskan pada diri sendiri, yaitu suatu kemampuan inherent untuk mengatasi serta meresponi keadaan di luar diri. Sedangkan di dalam pengertian umum sebuah kamus bahasa, kebebasan lebih difokuskan pada keadaan di luar diri, yaitu suatu keadaan yang tiada rintangan.
Kedua kamus tersebut telah melengkapi kita dengan pengertian yang baik karena telah memberi kita persepektif tentang kebebasan melalui sudut pandang di luar diri, maupun di dalam diri.


Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara Alkitabiah
 
Alkitab juga berbicara mengenai kebebasan dan tentunya Alkitab pun mempunyai cara pandangnya sendiri mengenai kebebasan.

Di dalam Alkitab, kata yang dipakai untuk kebebasan adalah ἐλευθερίαν (dibaca: Eleuterian) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Freedom atau Liberty.

Kata Eleuterian ini muncul beberapa kali di dalam Alkitab, yaitu:
 
Roma 8:21
tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
 
Dalam ayat ini, kata eleuterian telah diterjemahkan menjadi merdeka, yaitu dilepaskan dari perbudakan kebinasaan dan dimasukkan ke dalam suatu keadaan yang bebas sebagai anak Allah yang mulia. Dari ayat ini kita belajar bahwa kebinasaan itu merupakan sesuatu yang memperbudak kita. Tetapi di dalam kuasa-Nya, Allah mampu member kita kebebasan dari kebinasaan tersebut.

1 Korintus 10:29
Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberatan hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain?
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria diterjemahkan menjadi kebebasan dan dikaitkan dengan keberatan hati nurani orang lain.

2 Korintus 3:17
Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria dikaitkan dengan Roh Allah. Penting dicatat disini adalah dimana ayat menekankan bahwa sumber atau penyebab utama dari kemerdekaan adalah Roh Allah sendiri. Apabila sebelumnya kita melihat bagaimana kamus Filsafat menekankan kebebasan pada diri kita sendiri, maka Alkitab member penekanan bahwa Roh Allah itulah sumber dari kebebasan kita.

Galatia 2:4
Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria diterjemahkan menjadi kebebasan dan disini kita diajar bahwa di dalam Kristus Yesus ada kebebasan. Justru orang-orang yang melawan Yesus itulah yang ingin meniadakan kebebasan kita.

Galatia 5:1 dan 13
Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Ayat 1)

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Ayat 13)

Dalam ayat 1, kata eleuteria kembali diterjemahkan menjadi merdeka. Dan sebagaimana dalam Galatia 2:4 dijelaskan pula disini bahwa di dalam Kristus ada kemerdekaan. Kristus yang memerdekakan kita dan Kristus telah mengenyahkan kita dari kuk perhambaan.

Sementara itu dalam ayat 13, kata eleuteria dikaitkan dengan suatu keadaan yang memiliki kebebasan untuk memilih, yaitu memilih untuk hidup dalam dosa, atau memilih untuk melayani orang lain dengan kasih. Konsep memilih hidup di dalam dosa memang terdengar sangat bertetangan dengan konsep keselamatan, namun mungkin sekali di bagian ini Paulus ingin melukiskan bahwa di dalam keadaan kita yang sudah dimerdekakan, kita masih memiliki kemungkinan untuk hidup di dalam dosa. Dan tentu saja Paulus tidak ingin hal ini terjadi, sehingga ia menasihati jemaat untuk memilih cara hidup yang lain di dalam kemerdekaan mereka tersebut.

Yakobus 1:25
Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria diterjemahkan memerdekakan dan dikaitkan dengan hukum. Ini adalah suatu konsep yang unik dan khas Alkitab. Dimana kebebasan justru dikaitkan dengan hukum. Dalam konsep kita sebagai manusia, hukum adalah sesuatu yang mengikat dan terkesan amat berseberangan dengan konsep kebebasan. Tetapi Alkitab justru mengajarkan bahwa hukum itulah sumber kemerdekaan kita. Bahkan hukum itu membawa kita pada suatu kebahagiaan.

Yakobus 2:12
Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria kembali dikaitkan dengan hukum yang memerdekakan.

1 Petrus 2:16
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria dikaitkan dengan kondisi orang merdeka yang sekaligus justru merupakan hamba Allah. Sekali lagi ada konsep yang agak berbeda dengan konsep yang dipahami siapapun di luar Alkitab. Kemerdekaan dikaitkan dengan keadaan sebagai hamba yaitu hamba Allah. Tetapi apabila kita perhatikan di dalam ayat-ayat sebelumnya, sebetulnya ada benang merah yang dapat kita tarik dari konsep Alkitab ini. Sebab Allah sendiri adalah sumber kemerdekaan itu, maka tidak mengherankan apabila seseorang yang menjadi hamba Allah maka orang itupun akan menikmati kemerdekaan tersebut.

2 Petrus 2:19
Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.
 
Dalam ayat ini, kata eleuteria diterjemahkan menjadi kemerdekaan dan dikontraskan dengan hamba-hamba kebinasaan. Di ayat sebelumnya kita bertemu konsep hamba, yaitu hamba Allah. Di sini kita menemukan konsep hamba pula, yaitu hamba kebinasaan. Alkitab mengajarkan pada kita bahwa persoalannya bukanlah menjadi hamba atau tidak menjadi hamba. Persoalan utamanya adalah menjadi hamba siapakah seseorang itu. Jika ia menjadi hamba Allah maka ia akan merdeka, apabila menjadi hamba kebinasaan maka ia sama sekali tidak merdeka, melainkan justru dikalahkan.

[Tuhan Yesus adalah Pribadi yang Mahakuasa dan bebas melakukan apapun yang Ia kehendaki di dalam kuasa-Nya. Tetapi di dalam kebebasan-Nya itu, Tuhan Yesus justru memilih menjadi Manusia. Apa alasan Tuhan Yesus memilih untuk menjadi Manusia? Klik di sini.]
 
Beberapa hal yang dapat kita rangkum dari ayat-ayat yang membahas tentang eleuteria atau kebebasan (atau kemerdekaan) adalah:
  1. Bahwa kebebasan atau kemerdekaan itu bersumber dari Allah sendiri.
  2. Bahwa Kristus telah secara aktif memerdekakan kita dari kebinasaan.
  3. Bahwa orang-orang yang melawan Kristus justru merupakan pribadi-pribadi yang anti terhadap kebebasan. Tanpa mereka sadari, pemberontakan mereka pada Kristus justru akan meniadakan kebebasan yang Kristus telah kerjakan dan berikan pada manusia.
  4. Bahwa hukum yang berasal dari Allah adalah sesuatu yang menjamin kebebasan kita bahkan membawa kita pada kebahagiaan.
  5. Bahwa menjadi hamba Allah adalah sesuatu yang justru membawa kita pada kebebasan.
 
Apakah Allah adalah Pribadi yang sungguh-sungguh mempunyai kebebasan?
 
Berbicara tentang kebebasan, tentu tidak lepas dari berbicara tentang kekuasaan. Artinya, jika seseorang memiliki kekuasaan yang sangat besar (entah itu kuasa untuk memerintah ataupun kuasa untuk memiliki/disebut juga “kaya akan harta”), tentu ia juga memiliki kebebasan yang sangat besar.

Berbicara tentang pribadi yang paling berkuasa, tentu juga tidak lepas dari berbicara tentang Allah. Karena di jagat raya ini, tidak ada pribadi lain yang lebih berkuasa dari Allah. Apakah Allah yang Mahakuasa ini benar-benar memiliki kebebasan yang tanpa batas?

Pernah ada orang iseng bertanya begini: Dapatkah Allah menciptakan sebuah batu yang begitu besarnya, sampai Allah sendiri tidak mampu mengangkat batu itu? (Cobalah jawab pertanyaan ini dalam hati.)

Jika kita jawab: Dapat. Wah berarti Allah kasihan juga ya, mampu menciptakan batu, tetapi tidak mampu mengangkat batu itu.

Atau, jika kita jawab: Tidak dapat. Wah, katanya Allah itu Mahakuasa, tapi kok tidak bisa menciptakan batu yang seperti itu?

Wah gimana yah? Kok sepertinya jawaban apapun jadi salah?

Sebenarnya kita tidak perlu bingung menghadapi pertanyaan seperti ini. Ini adalah pertanyaan bodoh yang muncul karena kurangnya pengertian akan sifat Mahakuasa Allah serta kebebasan-Nya. Orang yang mengajukan pertanyaan ini memang memiliki niat kurang baik untuk mendiskreditkan Allah yang dipercayai orang Kristen. 
 
Pertanyaan ini mempunyai asumsi dasar bahwa: “Jika Allah itu Mahakuasa, maka tentu Ia mampu menciptakan apa saja sebebas-bebasnya. Jika Ia tidak mampu menciptakan (atau melakukan) segala sesuatu sebebas-bebasnya, maka tentu Ia tidak Mahakuasa.”

Asumsi di atas salah, maka tidak heran jawaban apapun yang kita berikan sepertinya ikut keliru. Allah memang Mahakuasa, tetapi bukan berarti Allah dapat melakukan segala sesuatu sebebas-bebasnya. Kemahakuasaan Allah dibatasi oleh sifat dasar atau natur dari Allah sendiri.[3] Maka jika pandangan populer tentang kebebasan berarti lepas dari segala hambatan dan aturan, ternyata hal itu tidak terjadi (bahkan) pada Allah Yang Mahakuasa. Allah disebut Mahakuasa karena tidak ada kuasa lain di luar Pribadi Allah yang mampu menandingi kekuasaan Allah. Satu-satunya pembatas dari ke-Mahakuasa-an Allah adalah Pribadi Allah sendiri.

Allah tidak dapat melakukan apa saja sebebas-bebasnya dan sekehendak hati-Nya. Contohnya: Dapatkah Allah berbohong? Dapatkah Allah tidak setia? Dapatkah Allah tidak mengasihi? Dapatkah Allah berbuat dosa? Dapatkah Allah mati [4]? Dapatkah Allah tidak Mahatahu? Dapatkah Allah … berhenti menjadi Allah?? Semua pertanyaan ini memberikan jawaban “Tidak” pada kita.

Allah kita yang Mahakuasa pun dibatasi oleh sifat Ilahi-Nya. Apakah ini berarti bahwa Allah benar-benar tidak bebas? Tidak demikian, justru batas-batas yang Allah buat berdasarkan sifat Pribadi-Nya itu memungkinkan Allah secara bebas bertindak sebagaimana Allah seharusnya.

Karena “batasan” sifat kudus-lah, maka Allah bebas dari dosa, sehingga akhirnya Ia selama-lamanya Allah yang tidak pernah tercemar oleh kesalahan. Dan pada gilirannya kita boleh merasa bebas dan aman berada bersama Dia. Seandainya Allah bebas sebebas-bebasnya, suka berbuat sekehendak hati-Nya, maka bagaimana kita bisa merasa damai, sukacita dan aman? Kita akan khawatir bahwa suatu saat Dia akan mengambil kita dan mempermainkan diri kita sekedar untuk bersenang-senang.

Karena Allah “dibatasi” oleh sifat kebenaran, maka Allah tidak mungkin berbohong pada kita, sehingga kita boleh dengan penuh keyakinan menantikan segala janji-Nya. Seandainya Allah tidak “dibatasi” oleh sifat setia-Nya, maka darimana kita bisa yakin bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita?

[Di dalam kebebasan-Nya Allah telah memberi janji keselamatan kepada manusia. Salah satu janji keselamatan yang paling terkenal adalah janji yang tercatat di dalam Yohanes 3:16. Ayat ini sangat populer dan bahkan banyak dihafal oleh orang Kristen. Tetapi pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh memahami maksud dari ayat terkenal tersebut? Mari baca dan renungkan pengertian dari Yohanes 3:16 tentang janji keselamatan Allah, klik di sini]
 
Melalui Alkitab kita tahu bahwa Allah telah memberi diri-Nya diikat oleh janji-janji-Nya. Ada janji keselamatan, ada janji penyertaan, ada janji penghiburan, ada janji tentang dunia yang baru dan masih banyak lagi janji-janji lainnya. Dengan mengucapkan sebuah janji, itu berarti Allah telah rela untuk diikat oleh janji tersebut. Akibatnya Allah tidak dapat lagi bebas untuk tidak memenuhi apa yang Ia janjikan. Sebagai contoh: Allah “tidak dapat” tidak menyertai kita, karena Ia telah berjanji dan karena Ia adalah setia. Allah terikat oleh aturan-aturan tertentu. Dan dengan demikian, bahkan hanya dengan cara demikian, Allah dapat secara bebas mengasihi kita dan menjalankan kehendak-Nya.

Dari apa yang terurai secara singkat di atas, kita dapat belajar suatu fakta penting yaitu bahwa “kebebasan membutuhkan suatu hukum atau batasan untuk memastikan kebebasan itu dapat dijalankan.” (Jangan baca terburu-buru bagian ini, renungkan baik-baik maknanya)

Jadi sekarang, jika Allah yang Mahakuasa saja telah dibatasi oleh Hukum-Nya sendiri, maka terlebih lagi kita bukan?


Bagaimana kita harus memahami tentang kebebasan manusia?
 
Apakah hukum dan peraturan merupakan penghalang bagi kebebasan manusia?

Sebagaimana yang sudah saya bahas di atas, kebebasan adalah kerinduan semua orang. Kita tidak suka dibatasi oleh apapun. Tetapi dapatkah kita bebas sebebas-bebasnya? Tidak. Bahkan untuk mencapai suatu kebebasan, kita membutuhkan hukum untuk menjamin kebebasan itu tetap ada. Bahkan Allah Yang Mahakuasa-pun tidak bebas sebebas-bebasnya. Allah membatasi diri-Nya dengan janji-janji yang harus ditepati. Ia juga dibatasi oleh sifat Ilahi yang tidak mungkin bertentangan satu sama lain.

Immanuel Kant pernah mengatakan: “Kebebasan bukanlah berarti bahwa kita dapat melakukan apa saja yang kita mau. Kebebasan berarti kita dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan apa yang kita inginkan.” Sungguh suatu pandangan filosofi yang bijaksana, bukan?

Bayangkan anda sedang mengemudi kendaraan di jalan raya. Anda sedang terburu-buru ke suatu tempat dan berharap tidak ada apapun yang menghalangi. Tapi sayang sekali, ketika mendekati perempatan jalan, lampu rambu lalu lintas sudah berwarna kuning. Jantung anda berdebar lebih kencang, anda memacu kendaraan karena berharap kebebasan anda tidak dihalangi oleh rambu konyol ini. Dan ketika anda benar-benar sampai di persimpangan jalan, lampunya benar-benar sudah menjadi merah. Anda kesal sekali. Hati anda begitu ingin bebas melaju dengan kendaraan anda, tapi hukum mengatakan bahwa anda harus berhenti. Apakah dalam hal ini kebebasan anda telah dikekang? Tidak.

Justru pengendara ini harus bersyukur bahwa ada hukum yang mengatur jalan raya. Sebab jika tidak demikian maka semua orang akan seenaknya mengemudikan kendaraan sehingga berakibat timbulnya banyak kecelakaan. Seandainya saja pengendara tadi melawan hukum yang ada karena dianggap telah membatasi kebebasan dia, maka mungkin sekali nyawanya akan terancam oleh pengendara dari arah lain. Justru hukum yang membatasi dia melakukan segala sesuatu sebebas-bebasnyalah yang telah memungkinkan dia masih dapat hidup dengan bebas. Inilah paradoks kebebasan yang jarang dimengerti dan jarang mau diterima oleh manusia.

Seorang pemuda berpikir: “Orang yang melarang freesex adalah orang yang kuno. Sekarang ini jaman yang bebas. Kita boleh tidur dengan perempuan mana saja asalkan atas dasar suka sama suka.” Lalu ia pun menjalankan hidup seperti yang telah ia percayai, sampai suatu ketika dia tertular penyakit kelamin. Pada saat itu dia (mungkin) baru sadar bahwa “kebebasan”nya selama ini telah membuat ia terikat pada sebuah penyakit.

Seorang suami barangkali berpikir: “Orang lain bebas berselingkuh, masa sih saya engga boleh?” Lalu ia pun mulai menjalin hubungan bebas dengan perempuan lain, hanya untuk menemukan bahwa perkawinannya kemudian terancam. Ia lalu mulai sadar bahwa ia tidak dapat lagi secara bebas mencintai istri dan anak-anaknya.

Seorang anak barangkali kesal bukan main ketika disuruh belajar. Hatinya ingin bebas bermain, tetapi orangtuanya memaksa dia belajar. Akhirnya ia memberontak dan sama sekali tidak mau belajar. Ia sekolah apa adanya, tidak serius dan berhenti di tengah jalan. Tadinya ia berpikir sedang menjalankan kebebasannya. Belakangan ia baru sadar betapa terbatasnya dirinya, ketika harus mencari pekerjaan.

Contoh-contoh dari kehidupan di atas menyuarakan pada kita tentang betapa pentingnya suatu hukum atau aturan bagi hidup ini demi terciptanya kebebasan hidup yang sejati.

Firman Tuhan berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku … kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31,32). Dalam ayat ini, kita melihat suatu pandangan dari Tuhan kita Yesus Kristus tentang arti sebuah kebebasan atau kemerdekaan. “Jika kamu tetap dalam firman-Ku” menyiratkan suatu hukum atau aturan atau pedoman. Firman Tuhan adalah suatu hukum yang harus diikuti. Tetapi hukum ini bukan dimaksudkan untuk menghalangi kebebasan kita. Justru hukum yang ditetapkan oleh Tuhan dimaksudkan agar kita dapat benar-benar hidup dalam kebebasan yang sejati.

Pada umumnya, orang memandang negatif suatu hukum atau aturan. Tapi Firman Tuhan memberi kesaksian bahwa hanya dengan tetap tinggal di dalam aturan-aturan Firman Tuhan, kita dapat sampai pada kebebasan yang kita idam-idamkan itu. Dan kebebasan ini bukanlah kebebasan yang kelak akan menjerat kita dalam kesulitan, tetapi kebebasan yang benar-benar membawa kita pada arti sebuah hidup yang sejati. Sebuah hidup yang benar-benar dapat dinikmati kini dan kemudian.

Orang yang menolak aturan atau ajaran atau hukum di dalam Firman Tuhan, sedang memintal bagi dirinya sendiri suatu jerat yang mematikan dikemudian hari.

Firman Tuhan mengatakan jangan mencuri sebab jika kita mencuri maka sekalipun untuk sesaat kita terlihat bebas mengambil milik orang lain sebenarnya kita telah terjerat oleh dosa mencuri tersebut. Akibatnya, nama kita akan menjadi rusak. Kepercayaan orang lain pada kita akan hilang. Kita bahkan suatu saat mungkin saja akan tertangkap dan dihukum.

Yakub adalah seorang yang suka menipu. Pikirnya mungkin ia sedang bebas melakukan apa yang ia kehendaki. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ia juga kena tipu orang lain. Dan di kemudian hari ia tidak berani bertemu Esau, kakaknya yang telah ia tipu.

Lawanlah Firman Tuhan, maka anda akan menemukan jerat lain yang mematikan. Terimalah Firman Tuhan, maka anda akan menemukan kebebasan sejati.


Kebebasan dalam ancaman
 
Saat ini kita hidup di era yang disebut sebagai era pasca-modern atau postmodern. Satu diantara beberapa ciri yang menonjol dari era ini adalah hasrat yang kuat untuk mendobrak hukum-hukum yang berlaku, termasuk di dalamnya (bahkan terutama di dalamnya) hukum yang ditetapkan di dalam Alkitab. Kalaupun hukum yang berlaku itu tidak dapat didobrak secara mutlak, setidaknya mereka akan membuat hukum itu menjadi kabur maknanya.

Contoh paling mudah yang dapat saya utarakan adalah tentang keluarga. Alkitab telah membuat hukum yang jelas dari sebuah keluarga yaitu adanya seorang laki-laki yang pergi meninggalkan orangtuanya untuk bersatu dengan seorang perempuan, yaitu istrinya. Firman Tuhan juga mengatur siapa yang harus menjadi kepala keluarga dan bagaimana istri harus bersikap padanya serta bagaimana suami harus bersikap pada istrinya. Tapi apa yang terjadi di zaman postmodern ini? Istilah keluarga telah dikaburkan begitu rupa sehingga timbul istilah “keluarga dari pasangan homoseks.” Ini benar-benar keterlaluan. Tidak ada yang disebut sebagai “pasangan homoseks” sekalipun jika mereka kelak dapat mengadopsi anak untuk dibesarkan. Aturan dari Tuhan tentang pasangan adalah terdiri dari pria dan wanita. Tetapi manusia ingin mendobrak aturan (kuno) ini. Menurut manusia, pasangan tidak harus laki dan perempuan. Sesama lelaki atau sesama perempuan yang saling mencintai pun dapat disebut sebagai pasangan. Dan lebih gilanya lagi, mereka ini lalu berjuang agar eksistensi mereka diakui oleh pemerintah di Indonesia. Dan menurut mereka, setiap upaya untuk menghentikan perjuangan mereka itu, dapat dikategorikan sebagai perusak kebebasan manusia. Ini benar-benar edan.

Gerakan feminisme yang berjuang mengangkat harkat perempuan pun jangan lupa untuk diwaspadai. Gerakan ini pun sebenarnya adalah buah dari pemikiran postmodern. Di satu sisi, benar sekali jika harkat perempuan tidak boleh diinjak-injak. Yesus pun menghargai perempuan. Akan tetapi yang terjadi zaman sekarang sudah kebablasan. Wanita-wanita yang tidak mau dikekang oleh suaminya menyatakan diri untuk bebas berkarir (sampai sini masih bagus), tiba pada suatu titik dimana karena merasa setaraf dengan laki-laki (dan benar memang mereka setaraf) akhirnya sebagai istri tidak mau lagi tunduk (mungkin hormat lebih tepat) pada keputusan suaminya. Mereka mulai mendominasi dan mengambil alih peran kepala keluarga. Dan pada titik ini, bahaya sudah mengintai di depan pintu. Keluarga mana saja yang peran kepala keluarganya terbalik dari apa yang Tuhan tetapkan akan menemukan ketidakharmonisan. (Jangan langsung percaya kata-kata saya, coba renungkan dan amati kisah nyata dalam kehidupan disekitar kita).

Contoh-contoh ini memang terlalu sedikit dan terbatas, tetapi setidaknya saya ingin memunculkan sebuah wacana berpikir, bahwa kebebasan yang Tuhan ingin kita nikmati, saat ini telah begitu banyak disalah mengerti dan diselewengkan. Tuhan ingin kita hidup bebas, tetapi hidup bebas yang diatur oleh Firman Tuhan. Hidup bebas di luar Firman Tuhan adalah jerat yang mematikan. Orang yang ingin memiliki kebebasan tetapi menolak Firman, tidak mungkin menemukan apa yang ia cari. Silahkan anda renungkan baik-baik. Tuhan memberkati.


Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia?
 
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia adalah suatu kebebasan dalam memilih untuk taat kepada Allah atau tidak taat kepada Allah. Jadi kehendak bebas tersebut tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara manusia dengan Allah.

Secara tradisional, kekristenan mengenal ada 4 jenis kehendak bebas yang ada di dalam diri manusia, yaitu;
  1. Kehendak bebas manusia sebelum jatuh ke dalam dosa.
  2. Kehendak bebas manusia setelah jatuh ke dalam dosa.
  3. Kehendak bebas manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus.
  4. Kehendak bebas manusia setelah hidup disurga bersama-sama dengan Allah.
 
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia sebelum jatuh ke dalam dosa?
 
 
Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia, yaitu Adam dan Hawa diciptakan dengan sungguh amat baik. Sungguh amat baik disini bukan saja terutama mengenai keindahan raga, melainkan juga mengenai keindahan hubungan dengan Allah.

Manusia diciptakan untuk dekat dengan Allah, berjalan-jalan bersama dengan Allah di Taman Eden. Namun, kepada manusia Allah juga telah memberikan suatu kehendak bebas, yaitu suatu kemampuan untuk memilih mentaati Allah atau melawan Allah. Tentu saja ini penting karena manusia bukanlah robot yang tindakan sudah dikendalikan secara mutlak mengikuti program-program yang sudah ditetapkan terlebih dahulu.

Manusia justru disebut sebagai manusia dan dikenal sebagai ciptaan yang paling mulia serta merupakan gambaran dan citra Allah, salah satunya adalah karena manusia memiliki kehendak yang bebas. Manusia dapat membuat keputusan dalam hubungannya dengan Sang Pencipta.

Yang menjadi persoalan adalah, apakah manusia akan memakai kehendak bebasnya tersebut untuk taat, atau untuk tidak taat? Dari Kitab Kejadian kita diberitahu bahwa manusia memilih untuk tidak taat.

Di taman Eden, Adam dan Hawa telah menyia-nyiakan kebebasan mereka dengan cara berusaha untuk membebaskan diri mereka dari Allah. Sungguh suatu ironi yang tidak dapat lagi kita sendiri perbaiki.


Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia setelah jatuh ke dalam dosa
 
Saat ini kita semua dilahirkan sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Sebagai keturunan Adam dan Hawa, tidak seorang pun dari kita yang dapat menghindar dari status kita sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Berbeda dengan pandangan dunia tentang kebebasan manusia, Alkitab mengajarkan bahwa sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam dosa sebetulnya kita sudah tidak lagi memiliki kebebasan.

Sekali lagi perlu kita pahami, bahwa bagi Alkitab yang dimaksud dengan kebebasan adalah kemampuan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Sehingga tidaklah mengherankan jika setelah jatuh ke dalam dosa maka kebebasan itu telah hilang. Mengapa demikian? Karena setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia menjadi budak dari dosa. Segala keinginan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah dosa semata. Manusia hanya bisa mengikuti keinginan hatinya yang berdosa dan tidak mungkin dapat taat kepada Allah.

Secara sepintas, kita masih dapat melihat bahwa seolah-olah manusia memiliki kebebasan tersebut, namun ini bukanlah kebebasan yang dimaksud oleh Alkitab. Ini adalah suatu keadaan yang liar dan semau-maunya saja. Tidak mengherankan jika Yesus pernah berkata: … sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:5). Mengapa Yesus seolah menuduh kita tidak dapat berbuat apa-apa? Bukankah manusia telah berbuat banyak dan mencapai prestasi yang luar biasa di dunia ini? Yang Yesus maksudkan adalah di dalam segala prestasi manusia yang luar biasa itu, manusia telah melakukannya tanpa diiringi dengan dorongan untuk memiliki ketaatan kepada Allah.

Seseorang dapat saja mencapai sesuatu hasil yang luarbiasa di dunia ini sekalipun dengan motivasi yang salah. Di dalam konteks manusia berdosa, motivasi pencapaian manusia yang terutama adalah dirinya sendiri, yaitu bagaimana memuaskan kebutuhan dirinya sendiri. Manusia tidak dapat membebaskan dirinya dari motivasi utama ini, karena manusia adalah makhluk yang telah jatuh ke dalam dosa.

Ungkapan yang cukup lengkap mengenai kehendak atau motivasi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dapat kita lihat dalam tulisan Rasul Paulus pada Surat Roma 3:10-18, yang berbunyi:

(10) seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.  (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah,  (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.

Dari ayat-ayat di atas, kita diberi gambaran oleh Alkitab mengenai betapa manusia yang telah jatuh ke dalam dosa itu pada dasarnya sudah begitu terikat kuat oleh kuasa dosa. Manusia sudah kehilangan kemampuan untuk taat kepada Allah, segala laku dan perbuatan manusia berdosa pada dasarnya adalah melawan Allah.


Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus?
 
Setelah ditebus oleh Yesus Kristus melalui kematian di kayu salib dan kebangkitan-Nya, manusia diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk menerima karya keselamatan tersebut.

Orang yang percaya kepada Yesus Kristus ini secara rohani telah dilahirkan kembali ke dalam suatu kehidupan yang baru secara spiritual. Apabila kita lihat secara jasmani, orang tersebut tidak memiliki perbedaan antara sebelum menjadi orang percaya dan setelah menjadi orang percaya. Namun secara spiritual, ada sesuatu yang berubah. Salah satu indikasi perubahannya adalah kesediaannya untuk mengakui diri sebagai orang berdosa yang tidak mampu menyelamatkan diri dari hukuman kekal. Orang ini sadar bahwa dirinya membutuhkan juru selamat dan ia percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan.

Kemampuan untuk percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan bukanlah suatu kemampuan yang muncul dari dalam diri manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kemampuan semacam itu adalah anugerah dari Roh Kudus sendiri. Dan Roh Kudus yang telah menganugerahkan kemampuan tersebut adalah Roh yang juga telah memberi suatu kelahiran baru secara spiritual kepada orang yang bersangkutan.

Dengan adanya kelahiran baru secara spiritual ini, manusia sudah diberi suatu kemampuan untuk taat pada kehendak Allah. Hal itu setidaknya ditandai dengan kemampuannya untuk percaya pada Yesus, sebagai


Kesimpulan
 
Betapa sering kita mendapati bahwa konsep kita tentang kebebasan adalah suatu kondisi dimana kita benar-benar dapat melakukan apapun yang kita inginkan tanpa ada satupun yang menghalangi kondisi kita tersebut.

Namun berdasarkan pembahasan kita di sini, kita mulai melihat bahwa di dalam suatu kebebasan pun ada suatu ikatan-ikatan yang justru berguna bagi keberlangsungan kebebasan tersebut. Bahkan sebagai manusia, kita tidak mungkin mengalami suatu kebebasan selain apabila kita mengikatkan diri pada Allah yang telah menciptakan kita. Allah itulah satu-satunya sumber kebebasan kita.

Inilah adalah suatu keadaan yang tidak dapat kita ubah, sebagaimana kita tidak dapat mengubah status kita sebagai ciptaan dan Allah sebagai Pencipta.


Beberapa pokok pikiran/tema/key words yang terdapat pada tulisan ini:
 
Apakah hasrat manusia yang paling dalam?
Apakah definisi dari kebebasan?
Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara umum?
Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara filsafat?
Apakah arti dari kebebasan menurut pandangan secara Alkitabiah?
Apakah Allah adalah Pribadi yang sungguh-sungguh mempunyai kebebasan?
Bagaimana kita harus memahami tentang kebebasan manusia?
Apakah hukum dan peraturan merupakan penghalang bagi kebebasan manusia?
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia?
Dapatkah Allah menciptakan sebuah batu yang begitu besarnya, sampai Allah sendiri tidak mampu mengangkat batu itu?
Bahan Renungan tentang arti kebebasan menurut pandangan Alkitab.
Tema khotbah mengenai kebebasan dan kemerdekaan Kristen.
Pendapat Robert T.Kiyosaki tentang kebebasan finansial.
Adam dan Hawa merindukan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka mau.
Istilah kebebasan dalam bahasa Yunani Eleuterian.
Kata Eleuterian ini muncul beberapa kali di dalam Alkitab.
Ayat-ayat Alkitab yang memuat tentang tema kebebasan.
Roma 8:21 tentang kebebasan
1 Korintus 10:29 tentang kebebasan
2 Korintus 3:17 tentang kebebasan
Galatia 2:4 tentang kebebasan
Galatia 5:1 dan 13 tentang kebebasan
Yakobus 1:25 tentang kebebasan
Yakobus 2:12 tentang kebebasan
1 Petrus 2:16 tentang kebebasan
2 Petrus 2:19 tentang kebebasan
Kesimpulan dan rangkuman dari ayat-ayat yang membahas tentang eleuteria atau kebebasan (atau kemerdekaan).
Jika Allah itu Mahakuasa, maka tentu Ia mampu menciptakan apa saja sebebas-bebasnya. Jika Ia tidak mampu menciptakan (atau melakukan) segala sesuatu sebebas-bebasnya, maka tentu Ia tidak Mahakuasa.
Contoh dari hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah Yang Mahakuasa.
Yoh 8:31,32 tentang kebebasan dan kemerdekaan.
Ciri yang menonjol dari era pasca-modern atau postmodern.
Selingkuh dan free sex dalam konteks kebebasan.
Homoseks dalam konteks kebebasan. Pandangan Alkitab
Feminisme dalam konteks kebebasan. Pandangan Alkitab.
Yohanes 15:5 dalam konteks tentang kebebasan.
Roma 3:10-18 dalam konteks tentang kebebasan.
Empat (4) jenis kehendak bebas yang ada di dalam diri manusia.
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia sebelum jatuh ke dalam dosa.
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia setelah jatuh ke dalam dosa.
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia setelah ditebus oleh Yesus Kristus.
Apakah yang dimaksud dengan kehendak bebas manusia setelah hidup disurga bersama-sama dengan Allah.
Ikatan-ikatan dan batasan-batasan yang diberikan pada kita justru berguna bagi keberlangsungan kebebasan kita sendiri.



Catatan:
[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), 90.

[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta : Gramedia, 1996), 406.

[3] Allah tentu tidak dapat membuat batu yang begitu besarnya sampai Ia sendiri tidak dapat mengangkatnya. Sebab Allah tidak bisa menciptakan sesuatu yang kuasanya lebih besar dari kuasa Allah.

[4] Itulah sebabnya, untuk dapat mati menebus kita dari hukuman dosa, Allah harus ber-Inkarnasi terlebih dahulu menjadi Manusia.